Selasa, 05 Mei 2009
Taujih
Hamdun bin Ahmad pernah ditanya, "Mengapa ucapan Ulama As-Salaf lebih berguna dari ucapan kita?" Beliau menjawab: Karena mereka berbicara untuk kemuliaan Islam, keselamatan jiwa dan kridhoan Arrohman. Sedangkan kita berbicara untuk kemuliaan diri, mencari dunia dan keridhoan manusia." Shifatushshofwah IV:122
Senin, 16 Februari 2009
Al - khansa', Ibunda para Syuhada
AL-KHANSA BINTI AMRU Al-Khansa,lbu para syuhada.
Namanya adalah Tamadhar binti Amru bin al-Haris bin asy-Syarid, seorang wanita penyair yang tersohor. Karena kemampuannya sebagai penyair, dikatakan, “Telah dikumpulkan para penyair dan ternyata tidak didapatkan seorang wanita yang lebih ahli tentang syair daripada Khansa”.
Al-Khansa terlahir pada zaman jahiliyah dan tumbuh besar di tengah suku bangsa Arab yang mulia, yaitu Bani Mudhar. Sehingga banyak sifat mulia yang terdapat dalam diri Al-Khansa. la adalah seorang yang fasih, mulia, murah hati, tenang, pemberani, tegas, tidak kenal pura-pura, suka terus terang. Dan selain keutamaan itu, ia pun pandai bersyair. la terkenal dengan syair-syairnya yang berisi kenangan kepada orang-orang yang dikasihinya yang telah tiada mendahuluin ke alam baka. Terutama kepada kedua saudara lelakinya, yaitu Mu’awiyah dan Sakhr yang telah meninggal dunia.
Khansa’ mendatangi Rasulullah saw bersama kaumnya dari Bani Salim, kemudian mengumumkan ke-Islamannya dan menganut aqidah Islam. Dialah wanita yang amat baik keislamannya sehingga menjadi lambang yang cemerlang dalam keberanian, kebesaran jiwa dan merupakan perlambang kemuliaan bagi sosok wanita muslimah.
Khansa’ juga memiliki kedudukan dan prestasi jihad yang mengagumkan dalam berpartisipasi bagi Islam dan membela kebenaran. Khansa’ turut menyertai peperangan-peperangan bersama kaum muslimin dan menyertai pasukan mereka yang memperoleh kemenangan.
Diriwayatkan bahwa ketika Adi bin Hatim dan saudarinya, Safanah binti Hatim datang ke Madinah dan menghadap Rasulullah SAW, maka berkata, “Ya Rasuluilah, dalam golongan kami ada orang yang paling pandai dalam bersyair dan orang yang paling pemurah hati, dan orang yang paling pandai berkuda.” Rasuluilah SAW bersabda, ‘Siapakah mereka itu. Sebutkaniah namanya.’ Adi menjawab, ‘Adapun yang paling pandai bersyair adalah Umru’ul Qais bin Hujr, dan orang yang paling pemurah hati adalah Hatim Ath-Tha’i, ayahku. Dan yang paling pandai berkuda adalah Amru bin Ma’dikariba.’ Rasuluilah SAW menukas, “Apa yang telah engkau katakan itu salah, wahai Adi. Orang yang paling pandai bersyair adalah Al-Khansa binti Amru, dan orang yang paling murah hati adalah Muhammad Rasulullah, dan orang yang paling pandai berkuda adalah Ali bin Abi Thaiib.’ Jarir ra. pernah ditanya, Siapakah yang paling pandai bersyair? Jarir ra. menjawab, ‘Kalau tidak ada Al-Khansa tentu aku.’ Al-Khansa sangat sering bersyair tentang kedua saudaranya, sehingga hal itu pernah ditegur olah Umar bin Khattab ra. Umar ra. pernah bertanya kepada Khansa, ‘Mengapa matamu bengkak-bengkak?’ Khansa menjawab, ‘Karena aku terialu banyak menangis atas pejuang-pejuang Mudhar yang terdahulu.” Umar berkata, ‘Wahai Khansa, Mereka semua ahli neraka.’ Sahut Khansa, ‘Justru itulah yang membuat aku lebih kecewa dan sedih lagi. Dahulu aku menangisi Sakhr atlas kehidupannya, sekarang aku menangisinya karena ia adalah ahli neraka.’
Al-Khansa menikah dengan Rawahah bin Abdul Aziz As Sulami. Dari pernikahan itu ia mendapatkan empat orang anak lelaki. Dan melialui pembinaan dan pendidikan tangan-tangannya, keempat anak lelakinya ini telah menjadi pahlawan-pahlawan Islam yang terkenal. Dan Khansa sendiri terkenal sebagai ibu dari para syuhada. Hal itu dikarenakan dorongannya terhadap keempat anak lelakinya yang telah gugur syahid di medan Qadisiyah. Sebelum peperangan dimulai, terjadilah perdebatan yang sengit di rumah Al-Khansa. Di antara keempat putranya telah terjadi perebutan kesempatan mengenai siapakah yang akan ikut berperang melawan tentara Persia, dan siapakah yang harus tinggal di rumah bersama ibunda mereka. Keempatnya saling tunjuk menunjuk kepada yang lainnya untuk tinggal di rumah. Masing-masing ingin turut berjuang melawan musuh fi sabilillah. Rupanya, pertengkaran mereka itu telah terdengar oleh ibunda mereka, Al-Khansa. Ketika Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani berangkat ke Qadisiyah di masa Amirul Mukminin Umar bin Khaththab ra, Khansa’ berangkat bersama keempat putranya untuk menyertai pasukan tersebut.
Di medan peperangan, di saat malam ketika para pasukan sedang siap berperang satu sama lain, Khansa’ mengumpulkan keempat putranya untuk memberikan petuah dan bimbingan kepada mereka dan mengobarkan semangat kepada mereka untuk berperang dan agar mereka tidak lari dari peperangan serta agar mereka mengharapkan syahid di jalan Allah SWT. Dengarkanlah wasiat al-Khansa’ yang mulia tersebut:
“Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian telah masuk Islam dengan ketaatan dan tanpa paksaan, kalian telah berhijrah dengan sukarela dan Demi Allah, tiada iIlah selain Dia. Sesungguhnya kalian adalah putra-putra dari seorang wanita yang tidak pernah berkhianat kepada ayah kalian, kalian juga tidak pernah memerlukan paman kalian, tidak pernah merusak kehormatan kalian dan tidak pula berubah nasab kalian. Kalian mengetahui apa yang telah Allah janjikan bagi kaum muslimin berupa pahala yang agung bagi yang memerangi orang-orang kafir, dan ketahuilah bahwa negeri yang kekal lebih baik dari negeri yang fana (binasa). Allah Azza wa Jalla befirman, “Wahai orang-orang yang berfirman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (Ali Imran: 20).
Maka, ketika datang waktu esok, jika Allah menghendaki kalian masih selamat, persiapkanlah diri kalian untuk memerangi musuh dengan penuh semangat dan mohonlah kepada Allah untuk kemenangan kaum muslimin. Jika kalian melihat perang telah berkecamuk, ketika api telah berkobar, maka terjunlah kalian di medan laga, bersabarlah kalian menghadapi panasnya perjuangan, niscaya kalian akan berjaya dengan ghanimah (rampasan perang) dan kemuliaan atau syahid di negeri yang kekal.
Keempat putra Khansa mendengarkan wejangan tersebut dengan penuh seksama. Mereka keluar dari kamar ibu mereka dengan tekad membara untuk menunaikan amanah jihad, perjuangan. Ketika datang waktu pagi, mereka segera bergabung bersama pasukan dan bertolak untuk menghadapi musuh. Syair mereka lantunkan.
Anak yang tertua bersenandung:
Wahai saudaraku, sesungguhnya ibunda sang penasehat
Telah berwasiat kepada kita kemarin malam
Dengan penjelasan yang tenang dan gamblang
Maka bersegeralah menuju medan tempur yang penuh bahaya
Yang kalian hadapi hanyalah
kawanan anjing yang sedang menggonggong
Sedang mereka yakin bahwa dirinya akan binasa oleh kalian
Adapun kalian telah dinanti oleh kehidupan yang lebih baik
Ataukah syahid untuk mendapatkan ghanimah yang menguntungkan
Kemudian dia maju untuk berperang hingga terbunuh.
Lalu yang kedua bersenandung:
Sesungguhnya ibunda yang tegas dan lugas
Yang memiliki wawasan yang luas dan pikiran yang lurus
Suatu nasihat darinya sebagai tanda berbuat baik terhadap anak
Maka bersegeralah terjun di medan perang dengan jantan
Hingga mendapatkan kemenangan penyejuk hati
Ataukah syahid sebagai kemuliaan abadi
Di Jannah Firdaus dan hidup penuh bahagia
Kemudian dia maju dan berperang hingga menemui syahid.
Lalu giliran putra al-Khansa’ yang ketiga bersenandung:
Demi Allah, aku tak akan mendurhakai ibuku walau satu huruf pun
Beliau telah perintahkan aku untuk berperang
Sebuah nasihat, perlakuan baik, tulus dan penuh kasih sayang
Maka, bersegeralah terjun ke medan perang yang dahsyat
Hingga kalian dapatkan keluarga Kisra (kaisar) dalam kekalahan
Jika tidak, maka mereka akan membobol perlindungan kalian
Kami melihat bahwa kemalasan kalian adalah suatu kelemahan
Adapun yang terbunuh di antara kalian adalah kemenangan dan pendekatan diri kepada-Nya
Kemudian, dia maju dan bertempur hingga mendapatkan syahid.
Lalu giliran putra al-Khansa’ yang terakhir bersenandung:
Bukanlah aku putra al-Khansa, bukan pula milik al-akhram
Bukan pula Amru yang memiliki keagungan
Jika aku tidak bergabung dengan pasukan yang memerangi Persia
Maju dalam kancah yang menakutkan
Hingga berjaya di dunia dan mendapat ghanimah
Ataukah mati di jalan yang paling mulia
Kemudian, dia maju untuk bertempur hingga terbunuh.
Ketika berita syahidnya empat bersaudara itu sampai kepada ibunya yang mukminah dan sabar. Al Khansa, Sang Bunda, tidak menjadi goncang ataupun meratap, bahkan dia mengatakan suatu perkataan yang masyhur yang dicatat oleh sejarah dan akan senantiasa diulang-ulang oleh sejarah sampai waktu yang dikehendaki Allah. Ucap Al Khansa
“Segala puji bagi Allah yang memuliakan diriku dengan syahidnya mereka, dan aku berharap kepada Rabb-ku agar Dia mengumpulkan diriku dengan mereka dalam rahmat-Nya”.
Umar bin Khaththab mengetahui betul tentang keutamaan al-Khansa’ dan putra-putranya sehingga beliau senantiasa memberikan bantuan yang merupakan jatah keempat anaknya kepada beliau hingga beliau wafat.
Al-Khansa telah meninggal dunia pada masa permulaan kekhalifahan Utsman bin Affan ra., yaitu pada tahun ke-24 Hijriyah. (Wanita-wanita Sahabiyah)
(dari: berbagai sumber)
www.sahabatnabi.0catch.com
http://nafiisahfb.multiply.com/journal/item/47/Al-Khansa_Ibu_Para_Syuhada
Jumat, 13 Februari 2009
Hmmmm.....
Pernikahan memang sesuatu yang sangat misterius. Tapi yang sangat di sayangkan perbincangan tentang munakahat hanya menjadi perbincangan semata tapi ketika di tanyakan "siapkah anti menikah sekarang?" semuanya kompak menjawab "ana belum siap"dengan berbagai alasan, mulai dari kuliah belum selesai sampai izin orangtua,ingin memcari ilmu bahkan kesiapan mental. Ntahlah tapi sepertinya ketika di tanyakan tentang kesiapan semuanya seolah menghindar.
Menikah adalah fitrah setiap manusia karena Allah menciptakan setiap manusia itu berpasangan (Adz-Dzariyaat : 49). Laki - laki dengan perempuan, siang dan malam, baik dan buruk, semuanya berpasangan. Ana teringat dengan pernyataan seorang akh, dia berkata "pernikahan itu terjadi karena 2 hal yaitu butuh dan mampu, ketika dia butuh tapi belum mampu maka hukumnya wajib. tapi ketika dia mampu tapi belum butuh maka hukumnya sunnah" tapi alangkah indahnya ketika dia mampu dan menikah
Menikah adalah ibadah sesuai dengan satu hadist "Jika seseorang menikah maka ia telah menegakkan separuh diennya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah dengan separuh yang lain" (H.R Baihaqi). Subhanalloh....bahkan dalam surat Ar-Rum : 21 telah terdapat manfaat pernikahan yaitu tentram dan menimbulkan kasih sayang. Apa lagi yang hendak di cari di dunia Allah ini selain ridho-Nya dan ketentraman batin???
Ketika sudah memahami makna pernikahan dan hati sudah mantap untuk menikah maka batu sandungan yang biasanya menjadi masalah adalah kuliah belum selesai.walaupun sebenarnya itu bukanlah masalah besar karena pernikahan tidak akan pernah mengganggu aktifitas kuliah bahkan akan menambah semangat untuk kuliah dan dakwah ini.
Maka wahai saudariku apa lagi yang engkau takutkan ketika hati sudah mantap menikah, jangan hanya menjadi perbincangan sesaat saja tapi melangkahlah segera dengan ridho-Nya. Insya Alloh akan ada pertolongan dari Alloh
Rasulullah saw. pernah mendorong seorang sahabatnya dengan berkata, “Menikahlah dengan penuh keyakinan kepada Allah dan harapan akan ridhaNya, Allah pasti akan membantu dan memberkahi.” (HR. Thabarni). Dalam hadits lain disebutkan: Tiga hal yang pasti Allah bantu, di antaranya: “Orang menikah untuk menjaga diri dari kemaksiatan.” (HR. Turmudzi dan Nasa’i)
Imam Thawus pernah berkata kepada Ibrahim bin Maysarah, “Menikahlah segera, atau saya akan mengulang perkataan Umar Bin Khattab kepada Abu Zawaid: Tidak ada yang menghalangimu dari pernikahaan kecuali kelemahanmu atau perbuatan maksiat.” (lihat Siyar A’lamun Nubala’ oleh Imam Adz Dzahaby). Ini semua secara makna menguatkan pengertian ayat di atas. Di mana Allah tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya yang bertakwa kepada Allah dengan membangun pernikahan.
Di sadur dengan perubahan dari www.dakwatuna.com
Rabu, 21 Januari 2009
Nasehat Imam Al-Ghozali
Apa yang paling dekat dengan kita???
maka jawabannya adalah mati karena setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mati, maka perbanyaklah mengingat mati
Apa yang paling jauh dengan kita di dunia ini??
maka jawabnya adalah masa lalu, karena kita tak akan pernah bisa kembali ke masa lalu, maka pergunakanlah waktu dan hidupmu hanya untuk mencari keridhoan-Nya
Apa yang paling besar di dunia ini?
maka jawabnya adalah nafsu (Al-A’raf : 179), maka berhati hatilah dengan nafsumu hingga ia tak akan mendekatkanmu apalagi sampai membawamu ke neraka
apa yang paling berat di dunia ini?
maka jawabannya adalah amanah (Al-Ahzab : 72), ketika Allah meminta hamba-Nya untuk menjadi khalifah di bumi tak ada seorang pun hamba-Nya yang mau dan sanggup bahkan malaikat yang begitu taat kepada-Nya tak kuasa menerimanya hingga kita manusia yang penuh dengan sifat sombong dan merasa mampu untuk melakukannya menyanggupi.
Apa yang paling ringan di dunia ini?
maka jawabannya adalah "meninggalkan sholat", sebegitu mudahnya kita meninggalkannya bahkan hanya gara-gara main komputer atau tugas kuliah dan kerja yang menumpuk, sungguh menghadap Allah yang hanya 5 waktu saja kita sering meninggalkannya apalagi jika perintah sholat itu tetap sebanyak 50 waktu, maka tak akan terbayangkan berapa yang akan kita tinggalkan. kalau pun di laksanakan maka akan di laksanakan dengan terburu buru bahkan seperti di kejar maling, yang waktunya hanya 10 - 15 menit menjadi 2-3 menit, tapi ketika ada masalah maka kita yang tidak terkabulkan maka dengan lantang kita akan bertanya di mana keadilan Allah, sebenarnya siapa yang tidak adil, Allah atau justru kita sendiri. Tanya hati tepuk dada.
Apa yang paling tajam di dunia?
maka jawabnya adalah lidah manusia, dapat di bayangkan berapa banyak orang yang telah kita gunjingkan stiap hari, di rumah, kampus atau di tempat kerja? berapa banyak kehormatan seseorang yang tercabik2 karna omongan kita dan berapa banyak fitnah yang tersebar dan nama baik yang ternoda karna lidah ini. maka bera banyak bangkai yang tlah kita makan??tanyakan kembali sebelum mulai menceritakan aib saudaramu, tanyakan kembali jika ini terjadi padamu maka apa yang akan terjadi??apa kita siap menerima konsekuensinya dari Allah??
Maka marilah kita bersama2 perbaiki diri dan hati
kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah yang sudah semestinya menjadi pedoman hudup kita
hingga kita sampai pada jannah-Nya
Amin
Sumbangan Al-Ikhwan untuk Kemerdekaan RI
Sumbangan Al-Ikhwan Al-Muslimun untuk Kemerdekaan Republik Indonesia
Al-Ikhwan.net | 12 June 2007 | 27 Jumadil Awal 1428 H | Hits: 4,016
Al-Ikhwan.net
Pemimpin Al-Ikhwan Al-Muslimun (IM), Hasan Al Banna ternyata pernah
menjadi anggota Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia di Mesir. Atas desakan IM,
Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan RI. Dengan demikian,
lengkaplah syarat-syarat sebuah negara berdaulat bagi RI.
***
Kota pelabuhan Iskandariyah pertengah Juli 1945. Jam kayu di sebuah
penginapan murah di kota pelabuhan Mesir telah enunjuk angka 22.00 waktu
setempat. Di satu ruangan yang tak seberapa besar, empat-puluhan kelasi kapal
berkebangsaan Indonesia berkumpul. Sejumlah mahasiswa Indonesia yang tengah
studi di Mesir terlihat memimpin rapat.
Beda dengan pertemuan sebelumnya, malam itu atmosfir rapat terasa agak
emosionil! Para kelasi Indonesia yang bekerja di berbagai kapal asing yang
tengah merapat di Iskandariyah, Port Said, dan Suez itu banyak yang yakin, jihad
fii sabilillah yang tengah digelorakan banga Indonesia melawan penjajah belanda
dalam waktu dekat akan sampai pada puncaknya.
Muhammad Zein Hassan, salah seorang mahasiswa Indonesia yang hadir, berpesan
pada para kelasi agar mulai menabung. “Di saat terjadinya jihad, mereka
sebaiknya meninggalkan kapal-kapal sekutu agar tidak menodai perjuangan.”
Sambutan para kelasi yang dalam kesehariannya jauh dari tuntunan agama itu
sungguh mengharukan. Mereka dengan sepenuh hati menyanggupi hal tersebut. “Jika
fatwa sudah turun, kami akan mematuhi,” ujar salah seorang dari mereka.
Tak terasa, jam telah berada di angka satu. Acara ditutup dengan sumpah setia
dengan perjuangan bangsanya yang nun jauh di seberang lautan. Seluruh peserta
mengangkat tangan kanan dan dikepalkan. Dengan menyebut nama Allah SWT, mereka
bertekad akan membantu dengan sekuat tenaga jihad fii sabilillah yang akan
digelorakan bangsanya dalam waktu dekat ini.
Sumpah para kelasi tersebut tidak main-main. Terbukti di kemudian hari, dua
bulan setelah proklamasi dibacakan Soekarno-Hatta, dua orang kelasi Indonesia
tiba di Kairo dengan berjalan kaki dari Tunisia.
“Saat kami tanya mengapa berjalan kaki sejauh itu, mereka menjawab bahwa
mereka menerima fatwa yang dibawa teman-teman mereka dari Indonesia. Fatwa itu
menyatakan haram hukumnya bekerja dengan orang kafir yang memerangi kaum
Muslimin,” ujar Zein Hassan.
Walau tidak punya cukup uang, dua orang kelasi itu segera meninggalkan kapal
sekutu tempatnya bekerja dan berjalan kaki menuju Mesir, karena di Mesir-lah
berada banyak orang sebangsanya.
Di Mesir sendiri kala itu tengah berkembang sikap antipati terhadap
penjajahan Inggris. Sikap non kooperatif terhadap penjajah Inggris ini
dicetuskan oleh organisasi Al-Ikhwan Al-Muslimun yang mendapat sambutan luar
biasa dari rakyat Mesir.
Sebagai gerakan dakwah yang menembus sekat geografis, Al-Ikhwan Al-Muslimun
telah memiliki “jaringan iman” dengan berbagai gerakan Islam di seluruh dunia,
termasuk Indonesia.
Sebab itu, ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Sekutu dengan
sekuat tenaga memblock-out berita ini masuk ke Timur Tengah. Dikhawatirkan jika
kemerdekaan Indonesia sampai didengar umat Islam di sana, ini bisa menjadi
inspirasi bagi gerakan serupa di Timur Tengah.
Serapat-rapatnya sekutu menutup informasi ini, akhirnya pada awal September
1945, sebulan setelah kemerdekaan Indonesia dibacakan, berita ini sampai juga ke
Mesir.
Mansur Abu Makarim, seorang informan Indonesia yang bekerja di Kedutaan
Belanda di Kairo, membaca berita kemerdekaan Indonesia dalam suatu artikel di
majalah Vrij Nederland. Bagai angin berhembus, berita ini dengan cepat menyebar
ke Dunia Islam.
Koran dan radio Mesir memuat berita kemerdekaan RI dengan gegap gempita. Para
penyiar dengan penuh semangat mengatakan bahwa inilah awal kebangkitan Dunia
Islam melawan penjajahan Barat.
Di Mesir saat itu, seorang Arab hanya dihargai sepuluh pound Mesir jika
dibunuh atau dilindas kendaraan militer Sekutu tanpa hak mengadu atau menggugat.
Sebab itu, proklamasi kemerdekaan sebuah negeri Muslim terbesar di dunia ini
disambut dengan luapan kebahagiaan.
Di sejumlah kota, Al-Ikhwan Al-Muslimun segera menggelar munashoroh
besar-besaran mendukung penuh kemerdekaan Indonesia. Ini dijadikannya momentum
momentum yang bagus untuk memerdekakan Mesir dari Inggris.
Bukan itu saja, sejumlah ulama di Mesir dan Dunia Arab dengan inisiatif
sendiri membentuk “Lajnatud Difa’i’an Indonesia” (Panitia Pembela Indonesia).
Badan ini dideklarasikan pada 16 Oktober 1945 di Gedung Pusat Perhimpunan Pemuda
Islam dengan Jendral Saleh Harb Pasya sebagai pimpinan pertemuan.
Hadir dalam acara itu antara lain Syaikh Hasan Al Banna dan Prof. Taufiq
Syawi dari Al-Ikhwan Al-Muslimun, Pemimpin Palestina Muhammad Ali Taher, dan
Sekjen Liga Arab Dr. Salahuddin Pasya.
Dalam pertemuan yang semata didasari ukhuwah Islamiyah, pakar hukum
internasional Dr. M. Salahuddin Pasya menyerukan negara-negara Islam untuk
sesegera mungkin mendukung, membantu, dan mengakui kemerdekaan RI. Selain itu,
Panitia Pembela Indonesia juga mengancam Inggris agar tidak membantu Belanda
kembali ke Indonesia.
“Jika Inggris membantu Belanda untuk kembali ke Indonesia, maka Inggris akan
menuai kemarahan Dunia Islam di Timur Tengah!” ancam Salahuddin Pasya.
Sejarah telah menulis, Inggris tetap membela “kawan seakidah” bernama
Belanda. Pasukan NICA membonceng Sekutu kembali ke Indonesia.
Pada 25 Oktober 1945, sejumlah ulama NU pimpinan KH. Wahid Hasyim bertemu dan
mengeluarkan fatwa jihad fii sabilillah melawan penjajah. Fatwa ini bergema ke
seluruh nusantara dan disambut dengan gegap gempita.
Fatwa jihad inilah yang melatarbelakangi pertempuran 10 November 1945 di
Surabaya (hingga kini 10 November diperingati sebagai hari Pahlawan di
Indonesia, red.). Untuk memompakan keberanian rakyat Surabaya, Bung
Tomo lewat corong radio perlawanan - cikal bakal RRI - terus menerus
mengingatkan para mujahid bahwa gerbang surga telah terbuka luas bagi mereka
yang syahid.
Hanya semangat jihad dan keridhaan Allah SWT yang mampu membuat ribuan rakyat
Surabaya berani melawan pasukan Sekutu bersenjata lengkap.
Kedahsyatan pertempuran Surabaya bergema hingga ke Dunia Arab. Keberanian
umat Islam Surabaya mengobarkan jihad melawan pasukan Sekutu yang habis mabuk
kemenangan dalam Perang Dunia II, ditambah tewasnya satu Jenderal Sekutu -
Malaby - di Surabaya, dirasakan oleh kaum Muslimin Timur Tengah sebagai bagian
dari kemenangan Islam atas kaum kafir. Upaya perlawanan terhadap Inggris di
Mesir pun kian membuncah.
Di berbagai lapangan dan Masjid di Kairo, Mekkah, Baghdad, dan negeri-negeri
Timur Tengah, dengan serentak umat Islam mendirikan sholat ghaib untuk arwah
para syuhada di Surabaya.
Melihat fenomena itu, majalah TIME (25/1/46) dengan nada salib menakut-nakuti
Barat dengan kebangkitan Nasionalisme-Islam di Asia dan Dunia Arab. “Kebangkitan
Islam di negeri Muslim terbesar di dunia seperti di Indonesia akan
menginspirasikan negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan diri dari
Eropa.”
Dukungan negara-negara Islam di Timur Tengah terhadap kemerdekaan Indonesia
tidak saja dilakukan dalam tingkat akar rumput, namun juga dalam dunia
diplomasi. Dalam berbagai sidang di Perserikatan Bangsa-Bangsa, terlihat dengan
jelas adanya perbedaan sikap antara negeri-negeri Muslim yang mendukung
Indonesia dengan negeri-negeri salib yang memandang Indonesia masih bagian dari
Belanda.
Wakil-wakil dari Indonesia di sidang PBB, diperbolehkan ikut sidang setelah
negeri-negeri Arab mengakui kedaulatan RI, dalam menghadapi serangan pihak
Sekutu sering menanggapinya dengan cara diplomatis dan terkesan lunak. Hal ini
dikecam keras Muhammad Ali Taher dari Palestina.
“Mengapa kamu masih saja bersikap diplomatis terhadap seseorang yang ingin
menghancurkan negeri kamu!” sergahnya mengingatkan wakil dari Indonesia agar
tidak takut melawan kezaliman.
Di Mesir, sejak diketahui sebuah negeri Muslim bernama Indonesia
memplokamirkan kemerdekaannya dari penjajah kafir, Al-Ikhwan Al-Muslimun tanpa
kenal lelah terus menerus memperlihatkan dukungannya.
Selain menggalang opini umum lewat pemberitaan media, yang memberikan
kesempatan luas kepada para mahasiswa Indonesia untuk menulis tentang
kemerdekaan Indonesia di koran-koran lokal miliknya, berbagai acara tabligh
akbar dan demonstrasi pun digelar.
Para pemuda dan pelajar Mesir, juga kepanduan Ikhwan, dengan caranya sendiri
berkali-kali mendemo Kedutaan Belanda di Kairo. Tidak hanya dengan slogan dan
spanduk, aksi pembakaran, pelemparan batu, dan teriakan-teriakan permusuhan
terhadap Belanda kerap dilakukan mereka.
Kondisi ini membuat Kedutaan Belanda di Kairo ketakutan. Mereka dengan
tergesa mencopot lambang negaranya dari dinding Kedutaan. Mereka juga menurunkan
bendera merah-putih-biru yang biasa berkibar di puncak gedung, agar tidak mudah
dikenali pada demonstran.
Kuatnya dukungan rakyat Mesir atas kemerdekaan RI, juga atas desakan dan lobi
yang dilakukan para pemimpin Al-Ikhwan Al-Muslimun, membuat pemerintah Mesir
mengakui kedaulatan pemerintah RI atas Indonesia pada 22 Maret 1946.
Inilah pertama kalinya suatu negara asing mengakui kedaulatan RI secara
resmi. Dalam kacamata hukum internasional, lengkaplah sudah syarat Indonesia
sebagai sebuah negara berdaulat.
Bukan itu saja, secara resmi pemerintah Mesir juga memberikan bantuan lunak
kepada pemerintah RI. Sikap Mesir ini memicu tindakan serupa dari negara-negara
Timur Tengah.
Untuk menghaturkan rasa terima kasih, pemerintah Soekarno mengirim delegasi
resmi ke Mesir pada tanggal 7 April 1946. Ini adalah delegasi pemerintah RI
pertama yang ke luar negeri. Mesir adalah negara pertama yang disinggahi
delegasi tersebut.
Tanggal 26 April 1946 delegasi pemerintah RI kembali tiba di Kairo. Beda
dengan kedatangan pertama yang berjalan singkat, yang kedua ini lebih intens. Di
Hotel Heliopolis Palace, Kairo, sejumlah pejabat tinggi Mesir dan Dunia Arab
mendatangi delegasi RI untuk menyampaikan rasa simpati. Selain pejabat negara,
sejumlah pemimpin partai dan organisasi juga hadir. Termasuk pemimpin Al-Ikhwan
Al-Muslimun Hasan al Banna dan sejumlah tokoh Ikhwan dengan diiringi puluhan
pengikutnya.
Setiap perkembangan yang terjadi di Indonesia, diikuti serius oleh setiap
Muslim baik di Mesir maupun di Timur Tengah pada umumnya. Para mahasiswa
Indonesia yang saat itu tengah berjuang di Mesir dengan jalan diplomasi
revolusi, senantiasa menjaga kontak dengan Ikhwan.
Ketika Belanda melancarkan agresi Militer I (21 Juli 1947) atas Indonesia,
para mahasiswa Indonesia di Mesir dan aktivis Ikhwan menggalang aksi pemboikotan
terhadap kapal-kapal Belanda yang memasuki selat Suez.
Walau Mesir terikat perjanjian 1888 yang memberi kebebasan bagi siapa saja
untuk bisa lewat terusan Suez, namun keberanian para buruh Ikhwan yang menguasai
Suez dan Port Said berhasil memboikot kapal-kapal Belanda.
Pada tanggal 9 Agustus 1947, rombongan kapal Belanda yang dipimpin kapal
kapal Volendam tiba di Port Said. Ribuan aktivis Ikhwan yang kebanyakan terdiri
dari para buruh pelabuhan, telah berkumpul di pelabuhan utara kota Ismailiyah
itu.
Puluhan motor boat dan motor kecil sengaja berkeliaran di permukaan air guna
menghalangi motor-boat motor-boat kepunyaan perusahaan-perusahaan asing yang
ingin menyuplai air minum dan makanan kepada kapal Belanda itu.
Motor-boat para ikhwan tersebut sengaja dipasangi bendera merah putih.
Dukungan Ikhwan terhadap kemerdekaan Indonesia bukan sebatas dukungan
formalitas, tapi dukungan yang didasari kesamaan iman dan Islam.
Walau pemimpin Ikhwan Hasan Al Banna menemui syahid ditembak mati oleh
begundal rezim Mesir di siang hari bolong, 12 Februari 1949, dukungan ikhwan
terhadap muslim Indonesia tidaklah berakhir. Dakwah tiada kenal kata akhir,
hingga Islam membebaskan semua manusia.
___
Sumber: Majalah Saksi - No. 21 Tahun VI, 18 Agustus 2004. Oleh: Rizki
Ridyasmara
Permasalahan hilal....
“Apabila hari Arafah berbeda karena perbedaan masing-masing wilayah di dalam mathla’ (tempat terbit) hilal, maka apakah kita berpuasa mengikuti ru’yah negeri tempat kita berada ataukah kita berpuasa mengikuti ru’yah Al-Haramain (Makkah dan Madinah –pent)?
Maka beliau menjawab,
Perkara ini dibangun di atas ikhtilaf para ulama, apakah hilal itu satu saja untuk seluruh dunia atau berbeda sesuai mathla’nya (tempat terbit bulan). Dan yang benar bahwa penampakan hilal berbeda sesuai dengan perbedaan mathla’.
Sebagai contoh: Apabila hilal telah nampak di Kota Makkah, dan sekarang adalah hari ke sembilan (di Makkah), hilal juga terlihat di negeri yang lain satu hari lebih cepat daripada Makkah sehingga hari Arafah (di Makkah) adalah hari kesepuluh bagi mereka. Maka mereka tidak boleh berpuasa karena hari tersebut adalah hari raya.
Demikian pula sebaliknya, jika di suatu negeri ru’yahnya lebih lambat daripada Makkah maka tanggal sembilan di Makkah merupakan tanggal delapan bagi mereka. Maka mereka berpuasa pada hari ke sembilan (menurut negeri mereka) bersamaan dengan tanggal sepuluh di Makkah. Ini merupakan pendapat yang kuat. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
اذا رايتموه فصوموا و اذا رايتموه فافطروا
“Jika kalian melihatnya (hilal) maka berpuasalah, dan apabila kalian melihatnya maka berbukalah” (Dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari Kitab Ash-Shaum, Bab Hal Yuqal Ramadhan (1900) dan Muslim di Kitab Ash-Shiyam, Bab Wujubus Shaum (20)(1081)).
Orang-orang yang hilal itu tidak nampak dari arah (daerah) mereka berarti mereka tidaklah melihat hilal tersebut. Begitu juga manusia telah sepakat bahwa mereka menganggap terbitnya fajar dan terbenamnya
Fadhilatus Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya,
“Apabila hari Arafah berbeda karena perbedaan masing-masing wilayah di dalam mathla’ (tempat terbit) hilal, maka apakah kita berpuasa mengikuti ru’yah negeri tempat kita berada ataukah kita berpuasa mengikuti ru’yah Al-Haramain (Makkah dan Madinah –pent)?
Maka beliau menjawab,
Perkara ini dibangun di atas ikhtilaf para ulama, apakah hilal itu satu saja untuk seluruh dunia atau berbeda sesuai mathla’nya (tempat terbit bulan). Dan yang benar bahwa penampakan hilal berbeda sesuai dengan perbedaan mathla’.
Sebagai contoh: Apabila hilal telah nampak di Kota Makkah, dan sekarang adalah hari ke sembilan (di Makkah), hilal juga terlihat di negeri yang lain satu hari lebih cepat daripada Makkah sehingga hari Arafah (di Makkah) adalah hari kesepuluh bagi mereka. Maka mereka tidak boleh berpuasa karena hari tersebut adalah hari raya.
Demikian pula sebaliknya, jika di suatu negeri ru’yahnya lebih lambat daripada Makkah maka tanggal sembilan di Makkah merupakan tanggal delapan bagi mereka. Maka mereka berpuasa pada hari ke sembilan (menurut negeri mereka) bersamaan dengan tanggal sepuluh di Makkah. Ini merupakan pendapat yang kuat. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
اذا رايتموه فصوموا و اذا رايتموه فافطروا
“Jika kalian melihatnya (hilal) maka berpuasalah, dan apabila kalian melihatnya maka berbukalah” (Dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari Kitab Ash-Shaum, Bab Hal Yuqal Ramadhan (1900) dan Muslim di Kitab Ash-Shiyam, Bab Wujubus Shaum (20)(1081)).
Orang-orang yang hilal itu tidak nampak dari arah (daerah) mereka berarti mereka tidaklah melihat hilal tersebut. Begitu juga manusia telah sepakat bahwa mereka menganggap terbitnya fajar dan terbenamnya matahari pada setiap wilayah disesuaikan dengan wilayah masing-masing. Maka demikian pulalah penetapan waktu bulan seperti penetapan waktu harian.
(Fatawa Ahkamis Shiam no. 405. Diterjemahkan oleh Abu Umar Al-Bankawy, muraja’ah Al-Ustadz Abdul Mu’thi Al-Maidani)
matahari pada setiap wilayah disesuaikan dengan wilayah masing-masing. Maka demikian pulalah penetapan waktu bulan seperti penetapan waktu harian.
(Fatawa Ahkamis Shiam no. 405. Diterjemahkan oleh Abu Umar Al-Bankawy, muraja’ah Al-Ustadz Abdul Mu’thi Al-Maidani)